Posmetrosiantar.com – Hubungan antara China dan Jepang kembali tegang setelah pernyataan terbaru dari Tokyo memicu kecaman keras dari Beijing. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam pidato perdananya di parlemen sejak menjabat pada Oktober, menyinggung kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika situasi di Selat Taiwan memburuk.
Takaichi menegaskan bahwa ancaman terhadap Taiwan kini sangat relevan bagi keamanan nasional Jepang. Beberapa wilayah Jepang hanya berjarak sekitar 110 km dari Taiwan, membuat potensi konflik tidak bisa lagi dianggap jauh dari kepentingan negara.
Ia juga merujuk pada undang-undang keamanan yang direvisi pada tahun 2015, yang memungkinkan Jepang menggunakan konsep “pertahanan kolektif” meskipun tidak diserang secara langsung. Pernyataan ini segera direspons keras oleh pemerintah China, yang menuduh Jepang mengancam stabilitas kawasan.
Ketegangan ini menyoroti kembali persaingan strategis antara dua kekuatan besar di Asia Timur, yang meskipun saling bergantung secara ekonomi, sering berselisih dalam isu geopolitik.

Perbandingan Kekuatan Militer China vs. Jepang: Analisis Mendalam
Ketika membahas kekuatan militer antara China dan Jepang, kita melihat dua kekuatan yang memiliki doktrin, ukuran, dan anggaran yang sangat berbeda. China adalah kekuatan militer raksasa yang sedang berkembang pesat dengan ambisi global, sementara Jepang memiliki militer yang modern dan canggih, tetapi dibatasi oleh konstitusi pasca-Perang Dunia II yang melarang kekuatan militer ofensif
Gambaran Umum Kekuatan Militer (Berdasarkan Global Firepower Index 2025)
| Kategori | China | Jepang |
| Peringkat Global | 3 | 8 |
| Power Index | 0,0788 | 0,1878 |
| Anggaran Pertahanan | US$266,85 Miliar | US$57 Miliar |
| Personel Aktif | 2.000.000 | 247.150 |
| Personel Cadangan | 510.000 | 56.000 |
Kekuatan Udara (Air Force)
China memiliki kekuatan udara terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Rusia. Mereka berinvestasi besar-besaran dalam pesawat tempur generasi kelima dan kemampuan serangan jarak jauh. Jepang, di sisi lain, memiliki angkatan udara yang sangat terlatih dan dilengkapi dengan teknologi canggih, terutama melalui kemitraan dengan AS.
erbandingan Kekuatan Udara
| Aset Udara | China (PLA Air Force) | Jepang (JASDF) |
| Total Pesawat | 3.309 | 1.443 |
| Pesawat Tempur/Interseptor | $\approx$ 1.571 | $\approx$ 217 (termasuk F-15J, F-2, F-35) |
| Pesawat Serang Khusus | $\approx$ 371 | $\approx$ 12 |
| Pesawat Angkut | $\approx$ 286 | $\approx$ 60 |
| Helikopter | $\approx$ 911 | $\approx$ 604 |
| Pesawat Latih | $\approx$ 421 | $\approx$ 211 |
Analisis: China unggul jauh dalam jumlah unit, termasuk pengembangan pesawat siluman J-20 dan armada pembom strategis H-6. Jepang, meskipun jumlahnya lebih kecil, mengandalkan kualitas dan kecanggihan teknologi, terutama dengan akuisisi jet tempur F-35 dari AS dan pengembangan jet tempur generasi berikutnya sendiri.
Kekuatan Darat (Army)
Pasukan darat China adalah yang terbesar di dunia, dengan fokus pada modernisasi dan kemampuan proyeksi kekuatan. Jepang memiliki Pasukan Bela Diri Darat (JGSDF) yang sangat terlatih dan dilengkapi dengan teknologi tinggi, namun dengan ukuran yang lebih terbatas.
Perbandingan Kekuatan Darat
| Aset Darat | China (PLA Army) | Jepang (JGSDF) |
| Tank Tempur Utama | 6.800 | 521 |
| Kendaraan Lapis Baja | 17.430 | 5.500 |
| Artileri Swagerak | 3.900 | 214 |
| Artileri Tarik | 1.730 | 480 |
| Peluncur Roket Multi-laras (MLRS) | 3.160 | 99 |
Analisis: China menunjukkan dominasi kuantitas yang luar biasa di semua kategori aset darat. Mereka memiliki armada tank, artileri, dan MLRS yang sangat besar. Jepang, meskipun memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit, fokus pada unit yang mobile, canggih, dan dilengkapi dengan sistem pertahanan rudal modern.
Kekuatan Laut (Navy)
Angkatan Laut China (PLAN) adalah angkatan laut terbesar di dunia dalam hal jumlah kapal, dan merupakan salah satu yang paling cepat berkembang, dengan fokus pada kemampuan “blue-water” (operasi di laut lepas). Jepang memiliki Angkatan Laut Bela Diri Maritim (JMSDF) yang sangat modern dan berteknologi tinggi, dikenal memiliki kapal selam dan kapal perusak anti-kapal selam yang sangat canggih.
Perbandingan Kekuatan Laut
| Aset Laut | China (PLAN) | Jepang (JMSDF) |
| Total Aset Angkatan Laut | 754 | 159 |
| Kapal Induk | 3 (2 aktif, 1 dalam uji coba) | 0 (namun memiliki kapal perusak helikopter/kapal induk ringan) |
| Perusak (Destroyer) | 50 | 36 |
| Fregat (Frigate) | 71 | 10 |
| Korvet (Corvette) | 72 | 0 |
| Kapal Selam | 79 | 21 |
| Kapal Patroli | 150 | 6 |
| Kapal Penyapu Ranjau | 49 | 25 |
Analisis: China jelas unggul dalam jumlah kapal, termasuk memiliki kapal induk aktif dan armada kapal perang permukaan yang sangat besar. Mereka juga memiliki jumlah kapal selam yang mengesankan. Jepang, di sisi lain, meskipun jumlahnya lebih sedikit, memiliki kapal-kapal canggih seperti kapal perusak kelas Aegis yang mampu melakukan pertahanan rudal balistik, serta armada kapal selam diesel-elektrik yang sangat senyap dan mematikan. Jepang juga secara efektif memiliki “kapal induk ringan” melalui kapal perusak helikopter kelas Izumo yang dapat mengoperasikan F-35B.
Rudal dan Nuklir
-
China: Memiliki salah satu arsenal rudal balistik terbesar dan paling beragam di dunia, termasuk rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mencapai AS, serta rudal balistik anti-kapal yang dijuluki “pembunuh kapal induk.” China juga merupakan salah satu dari lima negara pemilik senjata nuklir yang sah (P5) dan terus memodernisasi triad nuklirnya (darat, laut, udara).
-
Jepang: Berdasarkan konstitusinya, Jepang tidak memiliki senjata nuklir dan sangat membatasi pengembangan rudal balistik jarak jauh. Fokusnya adalah pada pertahanan rudal menggunakan sistem Aegis berbasis kapal dan berbasis darat (seperti yang pernah direncanakan dengan Aegis Ashore).
Luar Angkasa dan Siber
-
China: Telah berinvestasi besar dalam kemampuan perang luar angkasa dan siber, termasuk kemampuan anti-satelit dan unit siber ofensif yang canggih.
-
Jepang: Juga meningkatkan kemampuan pertahanan sibernya dan telah mulai mengembangkan unit luar angkasa untuk melindungi aset satelitnya.
Secara keseluruhan, China memiliki keunggulan kuantitatif yang jelas dan semakin meningkat dalam hal teknologi serta kemampuan proyeksi kekuatan, berkat anggaran pertahanan yang sangat besar dan ambisi militer yang terus tumbuh. Mereka memiliki militer yang didesain untuk operasi ofensif dan defensif berskala besar.
Jepang, meskipun lebih kecil secara jumlah, memiliki militer yang sangat modern, berteknologi tinggi, dan terlatih dengan baik, yang sangat berfokus pada pertahanan diri dan keamanan regional (terutama maritim dan udara), seringkali bekerja sama erat dengan Amerika Serikat. Kualitas dan teknologi canggih Jepang, ditambah dengan aliansi AS, adalah penyeimbang utama terhadap kekuatan China yang masif.






