KARO, POSMETRO – Kemeriahan pecah saat alunan musik tradisi menyapa telinga masyarakat dalam gelaran Gendang Guro-guro Aron. Wakil Bupati Karo yang hadir langsung di tengah kerumunan massa, memberikan pesan menohok bagi para pemuda.
Ia mendorong penuh peran aktif generasi muda untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur agar tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan di tengah gempuran zaman modern. Sabtu malam (25/4/2026).
Pemerintah Kabupaten Karo terus berkomitmen memberikan ruang bagi ekspresi kebudayaan. Wabup menegaskan bahwa Gendang Guro-guro Aron bukan sekadar ajang hiburan atau menari semata, melainkan wadah silaturahmi yang mempererat tali persaudaraan antar warga, khususnya bagi para pemuda (Aron) sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan di Tanah Karo.
Keseruan acara terlihat dari antusiasme masyarakat yang memadati lokasi. Gelaran musik tradisional Karo yang khas, dipadukan dengan tarian energik dari kaum muda, menciptakan suasana kekeluargaan yang kental. Wabup berharap kegiatan seperti ini rutin dilaksanakan untuk membentengi moral generasi bangsa dari pengaruh negatif budaya asing yang kian tak terbendung.
Di balik sorak-sorai penonton, Gendang Guro-guro Aron menyimpan misi besar sebagai benteng pertahanan karakter anak muda Karo. Di tengah kepungan gadget dan budaya luar, acara ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih punya taji. Pemkab Karo pun berencana mengemas acara serupa menjadi kalender wisata rutin guna menarik wisatawan mancanegara.
Tak hanya itu, dukungan dari para tokoh adat (Kalimbubu, Anak Beru, Senina) sangat krusial. Kehadiran pejabat daerah dalam acara ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak tutup mata terhadap eksistensi adat istiadat yang menjadi fondasi sosial di Tanah Karo.
Pelaksanaan Gendang Guro-guro Aron di Karo berlangsung sukses dengan kehadiran dan dukungan penuh dari Wakil Bupati Karo.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat akar budaya pada generasi muda (Aron) agar tetap mengenal identitas aslinya melalui seni musik dan tari tradisional.
Tanpa adanya dorongan dari pemerintah dan kesadaran pemuda, tradisi ini bisa dianggap “kuno” dan perlahan ditinggalkan, sehingga masyarakat kehilangan perekat sosialnya.
Konsistensi penyelenggaraan event budaya serta pemberian apresiasi bagi komunitas seni muda Karo agar mereka merasa bangga dan memiliki wadah untuk berekspresi secara positif. (PM/Setiawan)







