Menang Dramatis, Al-Ahli Resmi Jadi Juara ACL Elite: Machida Zelvia Dibikin Nangis!

Olahraga58 Views
Logo POSMETRO
POSMETRO SIANTAR
Lowongan Wartawan Dibuka
Kontributor • Wartawan • Kabiro
Kontributor
🔥 Dibutuhkan
Klik Daftar
Wartawan
⚡ Segera
Klik Daftar
Kabiro
⭐ Prioritas
Klik Daftar

JEDDAH (METRO SIANTAR) – Stadion King Abdullah Sports City benar-benar jadi saksi bisu keperkasaan Al-Ahli. Tim raksasa Arab Saudi ini sukses mengunci gelar juara AFC Champions League (ACL) Elite musim 2025-2026 setelah menumbangkan wakil Jepang, Machida Zelvia, dengan skor tipis 1-0 lewat drama perpanjangan waktu, Sabtu (25/4) malam WIB.

Gol semata wayang yang bikin fans Al-Ahli bergemuruh itu dicetak oleh penyerang andalan Timnas Arab Saudi, Feras Al Brikan. Padahal, perjuangan tim asuhan Matthias Jaissle ini nggak main-main beratnya.

Sejak menit ke-68, mereka harus bermain pincang dengan 10 orang pemain saja. Gara-garanya, Zakaria Al Hawsawi kena kartu merah langsung setelah tertangkap basah menanduk penyerang Machida Zelvia, Tete Yengi.

BACA JUGA: Al Nassr Tantang Gamba Osaka di Final AFC Champions League Two, CR7 Siap Angkat Trofi!

Meski kalah jumlah pemain, nyali Firmino dkk nggak ciut. Pertahanan solid Machida Zelvia yang sepanjang fase gugur nggak pernah kebobolan (clean sheet), akhirnya jebol juga di tangan kegigihan pemain Al-Ahli. Gelar ini makin terasa spesial karena Al-Ahli resmi jadi tim pertama yang berhasil “back-to-back” alias juara beruntun di era baru ACL Elite ini.

Tahun lalu, Al-Ahli juga sukses mengangkat trofi setelah melibas wakil Jepang lainnya, Kawasaki Frontale, dengan skor 2-0. Keberhasilan ini pun langsung mendapat jempol dari Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa. Beliau memuji konsistensi Al-Ahli yang dianggap sudah menaikkan standar sepak bola di Benua Kuning.

See also  Al Nassr Tantang Gamba Osaka di Final AFC Champions League Two, CR7 Siap Angkat Trofi!

Dengan hasil ini, Al-Ahli menyamai rekor rival sekotanya, Al Ittihad, yang pernah juara beruntun pada tahun 2004 dan 2005 silam. Hingga saat ini, di Arab Saudi sendiri cuma ada tiga tim yang pernah merasakan manisnya trofi Liga Champions Asia, yakni Al Hilal, Al Ittihad, dan tentu saja si raja baru, Al-Ahli Saudi.

Dominasi Al-Ahli di kancah Asia bukanlah sebuah kebetulan. Keberhasilan mereka meraih gelar ACL Elite secara beruntun adalah hasil dari sinergi antara kebijakan transfer yang agresif dan pengembangan taktik yang adaptif.

Kehadiran pemain berpengalaman Eropa memberikan ketenangan di lini tengah, sementara striker lokal seperti Feras Al Brikan menjadi pembeda di saat-saat krusial. Strategi Matthias Jaissle yang tetap berani menyerang meski kekurangan pemain menunjukkan mentalitas “King of Asia” yang sesungguhnya.

Kemenangan ini menciptakan efek domino bagi sepak bola Asia. Nilai komersial ACL Elite diprediksi akan melonjak karena dominasi tim bertabur bintang seperti Al-Ahli.

Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran akan terjadinya ketimpangan kompetisi antara wilayah Barat dan Timur Asia. Klub-klub di luar Arab Saudi kini dipaksa untuk mencari cara baru agar tetap bisa bersaing secara kompetitif di level tertinggi.

Langkah terbaik bagi kompetisi Asia ke depan adalah memperketat regulasi finansial namun tetap memberikan ruang bagi inovasi taktik. Bagi tim lawan, solusi teknis untuk menghentikan Al-Ahli adalah dengan meningkatkan efisiensi serangan balik saat Al-Ahli bermain agresif.

Bagi Al-Ahli sendiri, mereka wajib mempertahankan disiplin pemain di lapangan agar insiden kartu merah tidak menjadi “batu sandungan” di turnamen internasional lainnya seperti Piala Dunia Antarklub. (PM/AST)

Leave a Reply