SAMOSIR, POSMETRO – Keberadaan Tugu Raja Sigodang Ulu Sihotang di Samosir kini bukan lagi sekadar bangunan megah, melainkan sudah menjadi sorotan dunia. Seorang profesor ternama menyebut tugu ini sebagai katalisator leluhur yang luar biasa dalam menghidupkan kembali denyut nadi kebudayaan Batak di era modern.
Pernyataan ini muncul sebagai bentuk pengakuan atas nilai historis dan spiritual yang terkandung dalam monumen tersebut. Tugu ini dinilai berhasil menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan akar sejarah para leluhur, sehingga identitas budaya tidak hilang ditelan zaman.
Sang profesor menekankan bahwa kekuatan tugu ini terletak pada kemampuannya menyatukan keturunan (pomparan) dan menginspirasi mereka untuk tetap melestarikan adat istiadat. Hal ini dianggap sebagai fenomena unik di mana sebuah simbol fisik mampu menggerakkan semangat emosional dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Dengan adanya pengakuan internasional ini, diharapkan Tugu Sihotang tidak hanya menjadi tempat ziarah bagi keluarga besar, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia. Hal ini membuktikan bahwa warisan leluhur Batak memiliki tempat yang istimewa di mata akademisi dan peneliti global.
Tugu dalam budaya Batak bukan sekadar tumpukan semen dan batu, melainkan simbol eksistensi dan pemersatu marga. Tugu Raja Sigodang Ulu Sihotang berfungsi sebagai pusat dokumentasi silsilah (tarombo) hidup yang mengingatkan setiap orang tentang asal-usulnya, sekaligus menjadi identitas visual bagi marga Sihotang di tanah rantau maupun di Bona Pasogit.
Pengakuan dari pakar dunia ini berdampak besar pada peningkatan kepercayaan diri masyarakat adat. Secara ekonomi, hal ini berpotensi meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Samosir, khususnya ke situs-situs sejarah marga, yang nantinya akan memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM lokal dan sektor pariwisata daerah.
Agar pengakuan internasional ini tetap terjaga, perlu adanya pengelolaan yang lebih profesional terhadap situs tugu. Pemerintah daerah bersama komunitas marga harus bersinergi menyediakan narasi sejarah yang akurat dalam bentuk digital maupun buku panduan, serta menjaga keaslian lingkungan di sekitar tugu agar tetap asri dan layak dikunjungi sebagai destinasi wisata religi dan budaya. (PM/AsT)


