MEDAN – Kehadiran para tokoh agama dan penyuluh dalam momen penting dunia pendidikan menjadi bukti sinergi yang kuat antara akademisi dan praktisi keagamaan.
Baru-baru ini, jajaran Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Kota turut menghadiri acara syukuran atas pengukuhan Prof. Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA., sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Hadis di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). Jumat (24/04/26)
Kehadiran para penyuluh KUA Medan Kota ini dipimpin langsung oleh Kepala KUA Medan Kota, H. Ahmad Asyrul, S.Ag., bersama para penyuluh fungsional dan non-PNS.
Acara syukuran yang berlangsung khidmat tersebut digelar sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian tertinggi akademik yang diraih oleh Prof. Ardiansyah, yang juga dikenal sebagai tokoh ulama produktif di Sumatera Utara.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Asyrul menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas pengukuhan tersebut. Ia berharap gelar Guru Besar yang disandang Prof.
Ardiansyah dapat memberikan keberkahan bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan ilmu hadis, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat, terutama bagi para penyuluh dalam menjalankan tugas bimbingan di tengah masyarakat.
Pengukuhan seorang Guru Besar atau Profesor bukan sekadar pencapaian gelar akademik tertinggi, melainkan simbol kematangan intelektual.
Dalam konteks ilmu agama seperti Ilmu Hadis, kehadiran seorang pakar sangat dibutuhkan untuk memberikan landasan literasi keagamaan yang kuat bagi para penyuluh di lapangan agar pesan dakwah tetap relevan dan akurat secara keilmuan.
Minimnya jumlah pakar yang turun ke tengah masyarakat dapat berdampak pada munculnya pemahaman agama yang sempit atau bahkan keliru (misinformasi).
Tanpa bimbingan akademisi yang mumpuni, para praktisi keagamaan mungkin kesulitan menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, terutama dalam menghadapi isu-isu kontemporer yang memerlukan tinjauan hukum Islam yang mendalam.
Sinergi antara KUA dan perguruan tinggi harus terus ditingkatkan. Salah satu solusinya adalah dengan rutin menggelar forum diskusi atau bedah kitab yang melibatkan Guru Besar sebagai narasumber utama bagi para penyuluh.
Dengan demikian, kualitas bimbingan masyarakat di tingkat KUA akan semakin berbobot karena didukung oleh basis keilmuan yang valid dan mutakhir. (PM/Setiawan)










