PEMATANGSIANTAR, POSMETRO – Ketua DPRD Kota Pematangsiantar, Timbul Marganda Lingga SH, memberikan pesan mendalam pada momentum peringatan Hari Jadi Kota Pematangsiantar ke-155 tahun 2026.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa semangat persatuan dan kesatuan merupakan modal utama untuk membawa kota ini bangkit menjadi daerah yang memiliki daya saing tinggi. (Jum’at, 24/04/26).
Dalam pernyataannya, Timbul Lingga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjadikan peringatan HUT kali ini sebagai titik balik memperkuat kolaborasi.
Menurutnya, tanpa kebersamaan yang kokoh, target menjadikan Pematangsiantar sebagai kota yang mandiri dan kompetitif akan sulit tercapai di tengah tantangan zaman yang semakin dinamis.
Ia juga mengapresiasi perjalanan sejarah Pematangsiantar yang hingga kini tetap dikenal sebagai kota paling toleran. Timbul berharap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, terutama semangat gotong-royong, terus diimplementasikan dalam mendukung program pembangunan pemerintah demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dari pelosok kelurahan hingga pusat kota.
Peringatan HUT ke-155 ini bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau ziarah ke makam Raja Sang Naualuh Damanik semata. Di balik perayaan tersebut, terdapat tantangan besar mengenai pemulihan ekonomi pasca-global dan percepatan infrastruktur digital yang kini tengah digalakkan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar.
Ketua DPRD menekankan bahwa sektor UMKM dan pendidikan harus menjadi motor penggerak utama. Dengan letak geografis Siantar yang strategis sebagai gerbang menuju kawasan Danau Toba, kota ini punya potensi besar untuk tidak sekadar menjadi tempat singgah, melainkan destinasi ekonomi kreatif yang diperhitungkan di Sumatera Utara.
HUT Kota Pematangsiantar ke-155 menjadi panggung bagi legislatif untuk mengingatkan kembali pentingnya persatuan di tengah keberagaman etnis dan agama yang ada di kota ini.
Timbul Lingga menyoroti bahwa daya saing kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari mentalitas masyarakatnya yang bersatu dan inovatif dalam menghadapi perubahan ekonomi.
Tanpa adanya semangat persatuan, program pembangunan akan sering terhambat oleh konflik kepentingan atau disintegrasi sosial, yang pada akhirnya membuat Siantar tertinggal dari daerah tetangga.
Memperkuat sinergi antara DPRD dan Pemko dalam melahirkan regulasi yang pro-rakyat, serta mengajak warga untuk aktif menjaga iklim investasi yang kondusif melalui kerukunan yang selama ini sudah terjaga. (PM/Setiawan)






