Ekonomi RI Makin Kencang! Menkeu Beberkan Realisasi APBN per Maret, Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun

Logo POSMETRO
POSMETRO SIANTAR
Lowongan Wartawan Dibuka
Kontributor • Wartawan • Kabiro
Kontributor
🔥 Dibutuhkan
Klik Daftar
Wartawan
⚡ Segera
Klik Daftar
Kabiro
⭐ Prioritas
Klik Daftar

JAKARTA, POS METRO – Kabar gembira datang dari kondisi keuangan negara. Hingga 31 Maret, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat tumbuh ekspansif. Hal ini ditegaskan langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta, baru-baru ini.

“Hingga Maret, APBN tumbuh cukup ekspansif. Kalau Anda lihat yang tahun ini, pendapatan negara tumbuhnya 10 persen,” ungkap Menkeu di hadapan awak media.

Realisasi pendapatan negara yang mencapai angka fantastis sebesar Rp574,9 triliun ini ternyata ditopang kuat oleh penerimaan pajak yang meningkat tajam hingga 20,7 persen. Melambungnya setoran pajak ini dipicu oleh membaiknya roda ekonomi, harga komoditas yang stabil, serta makin patuhnya warga membayar pajak. Tak cuma itu, kecanggihan sistem digital perpajakan atau Coretax juga punya peran besar dalam mengoptimalkan uang masuk ke kas negara.

BACA JUGA: Ekonomi Malaysia ‘Mengaum’, Ringgit Terkuat di Asia dan Prediksi GDP IMF Melejit!

“Coretax ini menunjukkan bahwa meski ada kekurangan di sana-sini yang sudah kita perbaiki, dampaknya ke pendapatan sangat nyata dan positif. Program ini akan terus kita perkuat supaya kelemahannya hilang,” jelasnya lagi.

Di sisi lain, pendapatan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp67,9 triliun. Sementara untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga ikut naik 7 persen dengan angka realisasi mencapai Rp112,1 triliun.

Untuk urusan belanja, negara tetap berjalan sesuai jalur (on-track) mendukung program prioritas nasional. Hingga akhir Maret, realisasi belanja negara sudah menyentuh angka Rp815 triliun atau tumbuh pesat 31,4 persen.

See also  GEGER! Perjanjian Dagang RI-AS Bikin Industri Media Tercekik, Publisher Rights Terancam ‘Mandul’!

Belanja pemerintah pusat sendiri melonjak tajam hingga Rp610,3 triliun. Kenaikan 47,7 persen ini dipengaruhi oleh program-program strategis seperti pelaksanaan Makan Bergizi Gratis, penyaluran bantuan sosial (bansos), hingga pembayaran pensiun serta subsidi BBM dan listrik.

Geliat ekonomi di daerah juga ikut diperhatikan. Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) meningkat menjadi Rp204,8 triliun. Dana ini dialokasikan untuk Dana Bagi Hasil (DBH), DAU, DAK Nonfisik, hingga tambahan bantuan bagi daerah yang terkena musibah bencana alam, seperti di wilayah Sumatera.

Meski belanja jor-joran, Menkeu memastikan posisi defisit APBN masih sangat aman dan terkendali sesuai desain awal. Pemerintah berjanji akan terus mengelola pembiayaan secara hati-hati dan fleksibel melihat dinamika pasar.

“Yang jelas sepanjang tahun defisit akan kita kendalikan di bawah 3 persen sesuai aturan,” pungkas Menkeu menutup penjelasannya.

Realisasi APBN hingga Maret menunjukkan performa fiskal yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pendapatan negara yang tumbuh 10% menandakan bahwa mesin ekonomi domestik mulai panas, terutama didorong oleh konsumsi masyarakat dan aktivitas korporasi yang tercermin dari kenaikan pajak penghasilan.

Tingginya realisasi belanja (tumbuh 31,4%) memberikan dampak instan berupa stimulus ekonomi di tingkat akar rumput. Dengan adanya program Makan Bergizi Gratis dan Bansos, daya beli masyarakat bawah tetap terjaga. Selain itu, lancarnya Transfer ke Daerah (TKD) memastikan pembangunan infrastruktur desa dan pelayanan publik di pelosok daerah tidak terhambat.

Untuk menjaga tren positif ini, pemerintah perlu memastikan integrasi sistem Coretax berjalan tanpa kendala teknis guna meminimalisir kebocoran pajak. Selain itu, pengawasan terhadap penyaluran subsidi BBM dan listrik harus diperketat agar tepat sasaran, sehingga defisit tetap terjaga di bawah 3% sesuai mandat undang-undang tanpa mengorbankan program perlindungan sosial. (PM/AsT)