POSMETRO, JAKARTA – Kabar kurang sedap kembali datang dari lantai bursa dan pasar uang. Nilai tukar mata uang Garuda alias Rupiah, lagi-lagi menunjukkan performa yang bikin elus dada.
Rupiah dikabarkan kembali mencatatkan rekor terburuknya sepanjang sejarah, membuat para pelaku pasar dan investor saham di tanah air harus ekstra waspada menghadapi gejolak ekonomi global yang kian tak menentu. Selasa (05/05/26)
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, posisi rupiah ditutup pada level Rp 17.324 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menjadi catatan kelam baru karena merupakan posisi terlemah yang pernah ada.
Tekanan ini terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai angka fantastis, yakni sebesar Rp 9,38 triliun. Kondisi ini jelas memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi domestik di masa mendatang.
Namun, di balik “babak belurnya” nilai tukar rupiah, para analis tetap memberikan panduan bagi para pemburu cuan di pasar modal. Sebelum memasuki masa libur panjang atau long weekend, sejumlah rekomendasi saham hari ini muncul dari para ahli. Salah satunya adalah saham Aneka Tambang (ANTM) yang berada di harga Rp 3.800 dengan rekomendasi Add.
Selain itu, ada juga saham Barito Pacific (BRPT) yang disarankan untuk Buy on weakness dengan support di level Rp 1.855 dan resistance di Rp 2.140, sebagaimana dianalisis oleh Achmad Yaki dari BCA Sekuritas.
Tak ketinggalan, saham HM Sampoerna (HMSP) juga masuk radar pantauan. Emiten rokok ini direkomendasikan Buy on weakness pada harga Rp 775. Menurut analis Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, HMSP memiliki level support di Rp 735 dan resistance di Rp 820. Para investor diharapkan tetap jeli melihat peluang di tengah badai pelemahan nilai tukar yang sedang berlangsung.
Pelemahan rupiah hingga menembus angka di atas Rp 17.000 per dolar AS ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Secara eksternal, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat (The Fed) membuat dolar kembali pulang ke negara asalnya (capital outflow).
Secara internal, defisit neraca perdagangan dan tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan impor serta pembayaran utang luar negeri menjadi beban berat bagi otot rupiah.
Dampak dari merosotnya nilai tukar ini sangat terasa pada sektor riil. Harga barang-barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga barang elektronik dan pangan, berpotensi melonjak drastis. Bagi dunia usaha, kenaikan biaya produksi ini bisa memicu inflasi yang akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Di pasar modal, sentimen negatif ini membuat indeks saham sulit bergerak menguat karena investor asing cenderung menarik modalnya keluar dari Indonesia.
Untuk mengatasi situasi ini, Bank Indonesia diharapkan terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar SBN guna menjaga stabilitas nilai tukar. Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan lebih memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.
Bagi investor, diversifikasi portofolio ke aset aman (safe haven) seperti emas atau saham-saham emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar (eksportir) bisa menjadi strategi jitu untuk bertahan. (PM/Setiawan)







